BeritaTrending

Kajari Polman Keliling Naik Bendi, Langkah Unik Dukung Pelestarian Transportasi Lokal dan Wisata Daerah

×

Kajari Polman Keliling Naik Bendi, Langkah Unik Dukung Pelestarian Transportasi Lokal dan Wisata Daerah

Sebarkan artikel ini
Kajari bersama rombongan berkeliling.memggunakan bendi di area wilayah kecamatan Polewali

POLMAN, SULBARTODAY – Suasana berbeda terlihat di Kota Polewali, Jumat (10/4/2026). Usai berkantor, Kepala Kejaksaan Negeri Polewali Mandar Nurcholis, SH, MH melakukan safari transportasi dengan mengendarai bendi, menyusuri sejumlah ruas jalan dalam kota.

KLIK DIATAS | TONTON VIDEONYA

Iklan Sulbar Today

Hal ini dilakukan sebagai simbol ajakan kepada masyarakat untuk menjaga dan melestarikan bendi sebagai warisan transportasi lokal yang kini nyaris punah.

Kepala Kejaksaan Negeri Polewali Mandar, Nurcholis, menjelaskan bahwa di Polewali Mandar, transportasi tradisional yang ditarik kuda ini dikenal dengan sebutan bendi yang keberadaannya nyaris punah.

“Transportasi ini di Polman dikenal dengan nama bendi, kereta yang ditarik kuda. Ini adalah salah satu transportasi lokal yang kita amati nyaris punah, perlu dilestarikan,” ujarnya.

Kepala Kejaksaan Negeri Polewali Mandar, Nurcholis

Ia menilai, keberadaan bendi tidak hanya penting dari sisi trasnportasi, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari salah satu wisata daerah.

“ini bisa dipikirkan bersama untuk kemudian dimasukkan dalam event wisata. Selain itu, perlu juga dibuatkan regulasi atau aturan agar keberadaannya tetap terjaga,” lanjut Nurcholis, aparat penegak hukum yang juga dikenal sebagai sosok yang peduli pelestarian budaya transportasi lokal.

Ia juga mengungkapkan bahwa keberadaan bendi kini sudah semakin jarang ditemukan, bahkan nyaris punah, meskipun sebelumnya cukup banyak tersebar di wilayah Sulawesi dan sebagian Sumatera.

“Sekarang ini kita lihat sudah hampir punah. Padahal ini bagian dari kearifan lokal yang harus kita bangkitkan kembali,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong agar pemanfaatan bendi dapat dihidupkan kembali, khususnya pada momen tertentu seperti akhir pekan di dalam kota.

“Untuk weekend, bisa diberdayakan di dalam kota. Ini juga bagian dari upaya membangkitkan kearifan lokal,” pungkasnya.

Safari bendi ini menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak harus menghilangkan identitas budaya lokal yang sarat nilai sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *