SULBARTODAY – Setiap tanggal 2 Mei, kita rutin mengenakan pakaian adat atau batik terbaik, berdiri tegak dalam upacara, dan menyuarakan slogan “Ing Ngarsa Sung Tulada”.
Namun, di balik kemeriahan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kabupaten Polewali Mandar yang kita cintai ini, masih ada sebuah potret buram yang mengusik nurani: anak-anak yang seharusnya memegang pulpen, justru memegang sapu lidi, jaring ikan, atau sekadar melamun di teras rumah karena putus sekolah.
Pertanyaan besarnya selalu sama: Salah siapa? Jika kita mencari kambing hitam, jari telunjuk bisa dengan mudah mengarah ke mana-mana.
Kita bisa menyalahkan kemiskinan yang mencekik, menyalahkan pemerintah yang dianggap kurang sigap, atau menyalahkan orang tua yang lebih memilih anaknya bekerja demi sesuap nasi. Namun, saling menunjuk tidak akan pernah membawa anak-anak kita kembali ke ruang kelas.

Sejatinya, fenomena Anak Tidak Sekolah (ATS) adalah alarm keras bagi kita semua. Ini bukan sekadar angka statistik dalam laporan pembangunan, melainkan “luka” pada masa depan Polewali Mandar.Pendidikan adalah Tanggung Jawab KolektifPemerintah Kabupaten memang memiliki mandat konstitusional untuk menyediakan akses. Namun, kebijakan di atas kertas tidak akan menyentuh akar rumput tanpa kepedulian tetangga sebelah rumah.
Salah siapa jika ada anak putus sekolah? Jawabannya: Ini adalah kelalaian kolektif kita.Kita sering terlalu sibuk membangun infrastruktur fisik, hingga terkadang lupa bahwa investasi terbaik adalah manusia.
Pendidikan bukan hanya tugas Dinas Pendidikan semata, melainkan kerja kolaboratif antara birokrasi, sektor swasta, tokoh agama, hingga perangkat desa.Mengubah Pola Pikir di Mandar, kita mengenal nilai-nilai luhur tentang kecerdasan dan martabat.
Sudah saatnya kita membangkitkan kembali semangat bahwa “sekolah adalah jalan merdeka”. Jangan biarkan kemiskinan menjadi alasan abadi. Saat ini, berbagai program beasiswa dan bantuan sosial telah tersedia, namun seringkali informasi ini tidak sampai atau terhalang oleh rasa pesimis masyarakat.
Melalui momentum Hardiknas tingkat Kabupaten Polewali Mandar ini, saya mengajak kita semua untuk berhenti bertanya “salah siapa” dan mulai bertanya “apa yang bisa saya lakukan?”.
*Pertama* .*Bagi aparat desa:* Sisir kembali setiap rumah, pastikan tidak ada anak usia sekolah yang menganggur.
*Kedua.* *Bagi orang tua:* Pahamilah bahwa ijazah anak adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada sepetak tanah.
*Ketiga. Bagi kita semua:* Jadilah mata dan telinga bagi pemerintah. Laporkan jika ada anak yang terancam putus sekolah. Pendidikan di Polewali Mandar tidak akan maju hanya dengan pidato yang memukau, melainkan dengan langkah nyata menjemput mereka yang tertinggal.
Mari kita pastikan bahwa di tahun-tahun mendatang, tidak ada lagi anak Mandar yang menatap gerbang sekolah dengan rasa rindu, melainkan mereka duduk di dalamnya dengan rasa bangga.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari bergerak bersama, sembuhkan luka pendidikan kita, dan wujudkan Polewali Mandar yang lebih cerdas dan bermartabat. (*)







