Scroll untuk baca Berita
BeritaNasional

Desa Kuajang Satu-Satunya Wakil Sulawesi Barat di Jambore Nasional Perfilman Desa 2026

×

Desa Kuajang Satu-Satunya Wakil Sulawesi Barat di Jambore Nasional Perfilman Desa 2026

Sebarkan artikel ini
Poto Bersama Peserta Jambore Setelah FGD
WhatsApp Image 2026-08-28 at 14.38.07 (1)
Banner Polres

Karanganyar, 26 Agustus 2026 — Desa Kuajang, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, menjadi satu-satunya desa asal Provinsi Sulawesi Barat yang hadir dalam Jambore Nasional Perfilman Desa 2026 di Watu Gambir Park, Desa Karang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Keikutsertaan ini bukan kebetulan: Desa Kuajang mendapat rekomendasi resmi dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menyusul capaian film “PEOPLE” yang masuk lima besar Festival Film Desa 2025 dengan predikat Juara Harapan II.

Jambore yang mengangkat tema “Dunung – Gunung – Lumbung” ini berlangsung 26–29 Agustus 2026, hasil kolaborasi Kelompok Masyarakat Komunitas Perfilman Desa Karang dengan Direktorat Penyerasian Pembangunan Sosial Budaya dan Kelembagaan Kemendes PDT, serta didukung sejumlah mitra termasuk Dana Indonesiana, Axioo, Sony, dan BRI.

Delegasi Desa Kuajang dipimpin oleh Pua Kaso (Sekretaris Desa Kuajang) yang menegaskan bahwa kehadiran di Karanganyar punya makna lebih jauh dari sekadar mengikuti acara seremonial.

Poto Direktur Penyerasian Pembangunan Sosial Budaya dan Kelembagaan Daerah Tertinggal Bapak Dr. Dimposma Sihombing, S.Sos., M.A.P Bersama Delegasi Desa Kuajang

“Kami datang bukan cuma untuk menonton atau dilihat. Ini kesempatan langka bagi desa sekecil Kuajang untuk duduk satu meja dengan pelaku film desa dari berbagai provinsi, saling tukar cara kerja, saling kenal kontak,” ujarnya di sela kegiatan. “Jaringan seperti ini yang nanti akan menentukan apakah desa kami bisa terus produksi karya, atau berhenti setelah satu film.”

Menurutnya, forum semacam ini membuka jalan bagi desa-desa daerah tertinggal untuk mendapat akses yang selama ini sulit dijangkau, mulai dari pelatihan teknis, kolaborasi lintas komunitas, hingga peluang pendanaan produksi berikutnya.

Muh. Fajrin, sutradara film “PEOPLE”, turut hadir sebagai bagian dari delegasi. Ia mengaku capaian ini di luar dugaan mengingat keterbatasan alat dan sumber daya yang dihadapi timnya saat produksi.

“Kami menggarap film ini dengan alat seadanya, kru yang juga merangkap banyak peran. Tidak menyangka bisa tembus lima besar nasional,” katanya. “Yang saya harap dari jambore ini, kami bisa belajar langsung dari sineas-sineas desa lain yang mungkin punya keterbatasan serupa tapi hasil karyanya jauh lebih matang. Itu ilmu yang tidak bisa didapat cuma dari internet.”

Sekretaris Desa Kuajang, Syaharuddin, S.Pd., yang turut mendampingi delegasi, menyampaikan apresiasi khusus kepada Ajbar, S.P., Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Sulawesi Barat, atas kontribusinya membantu proses keberangkatan delegasi.

“Kami berterima kasih kepada Bapak Ajbar yang responsif ketika kami sampaikan permohonan dukungan. Bantuan itu yang akhirnya membuat keberangkatan kami bisa terealisasi,” ujarnya.

Namun Syaharuddin tidak menutupi kekecewaannya terhadap minimnya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat terhadap prestasi yang diraih desanya.

“Terus terang, kami kecewa. Ini prestasi yang mengangkat nama Polewali Mandar dan Sulawesi Barat di tingkat nasional, tapi dukungan dari kabupaten dan provinsi nyaris tidak ada. Kepastian keberangkatan kami baru didapat di detik-detik terakhir, setelah semua diusahakan sendiri oleh desa,” katanya.

Ia menegaskan, tanpa dukungan penuh dari Kepala Desa Kuajang, H. Muhammad S., keikutsertaan ini kemungkinan besar tidak akan terwujud. “Pak Kepala Desa yang all-in mendukung kami berangkat, meski dengan segala keterbatasan anggaran desa. Itu yang membuat kami akhirnya bisa sampai di Karanganyar,” tambahnya.

Keikutsertaan Desa Kuajang dalam Jambore Nasional Perfilman Desa 2026 diharapkan menjadi pijakan awal bagi tumbuhnya ekosistem perfilman desa di Sulawesi Barat, yang selama ini belum banyak terdengar di kancah nasional. Desa Kuajang berharap capaian ini turut mendorong perhatian yang lebih serius dari pemerintah daerah terhadap potensi ekonomi kreatif berbasis desa ke depannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *