POLMAN, SULBARTODAY – Suasana khidmat menyelimuti kediaman Syarifah Tanri Ampa di Kecamatan Mapilli, Sabtu malam (7/2/2026), saat ratusan undangan menghadiri acara tahlilan dan doa bersama malam ke-7 wafatnya tokoh Sulawesi Barat, Mayor Jenderal TNI (Purn) Salim S. Mengga.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Bupati Polewali Mandar, H. Samsul Mahmud, bersama keluarga besar almarhum. Turut hadir Anggota DPRD Sulawesi Barat Ary Iftikhar Umar Shihab, Rektor Universitas Islam DDI AGH Abd Rahman Ambo Dalle, Prof. Dr. H. Anwar Sewang, M.Pd., serta sejumlah tokoh lintas sektor.
Dalam sambutannya, Bupati Samsul Mahmud menyampaikan duka mendalam atas wafatnya almarhum sekaligus menyampaikan kekaguman terhadap dedikasi dan pengabdian sosok yang akrab disapa Puang Saiyye’ tersebut. Ia menyebut almarhum sebagai representasi manusia Mandar yang paripurna.
“Beliau adalah cermin bagi kita semua. Sebagai Jenderal Bintang Dua, beliau menunjukkan integritas dan kedisiplinan militer yang religius. Sebagai mantan Wakil Gubernur dan politisi, beliau membuktikan bahwa kekuasaan adalah alat untuk menebar manfaat,” ujar Bupati.
Bupati juga menegaskan komitmennya untuk menjadikan nilai-nilai perjuangan almarhum sebagai pedoman dalam kepemimpinan, khususnya nilai kejujuran (Tongang Pau) dan harga diri (Siri’) sebagai kompas dalam menjalankan kebijakan pemerintahan di Kabupaten Polewali Mandar.
Sementara itu, mewakili keluarga besar almarhum, Ary Iftikhar Umar Shihab menyampaikan kesan mendalam mengenai sosok Salim S. Mengga. Ia menuturkan bahwa di balik ketegasan militernya, almarhum dikenal sebagai pribadi yang dermawan dan gemar membantu sesama tanpa mengharap publikasi.
“Beliau mengajarkan bahwa tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Semangat berbagi dan kepedulian sosial itulah yang menjadi warisan paling berharga bagi keluarga yang ditinggalkan,” ungkap Ary.
Staf Ahli Bupati Polewali Mandar, DR. Aco Musaddad HM, dalam ceramah takziahnya menekankan bahwa warisan terbesar almarhum adalah karakter dan amal jariyah. Ia menyampaikan bahwa almarhum mampu memadukan ketegasan seorang prajurit dengan keteduhan seorang ulama, sehingga menjadi teladan kepemimpinan yang mencintai rakyat dengan tulus.
Acara diawali dengan pelaksanaan shalat Isya berjamaah, dilanjutkan dengan tahlilan, zikir, serta doa bersama yang dipimpin para ulama dari Rabithah Alawiyah Cabang Polewali Mandar. Kehadiran ratusan masyarakat dari berbagai kalangan menjadi bukti besarnya pengaruh serta kecintaan masyarakat terhadap sosok almarhum yang dikenal sebagai pelita bagi Tanah Mandar. (*)






