MAJENE, SULBARTODAY – Dalam upaya memperkuat identitas Kabupaten Majene sebagai “Kota Pendidikan”, DR Aco Musaddad HM memaparkan gagasan strategis dalam Diskusi Tomanurung yang berlangsung di Cafe Bujang, Majene, Ahad (3/5.26).
Ia menekankan bahwa pelestarian budaya Mandar harus bertransformasi dari sekadar romantisme masa lalu menjadi basis ilmu pengetahuan yang terukur melalui peran perguruan tinggi.
DR Aco Musaddad HM menyampaikan lima poin konstruktif yang bertujuan menjadikan kekayaan literasi Lontara dan nilai filosofis Tomanurung sebagai pilar inovasi di era modern:
1. Integrasi Laboratorium Lontara: Mendorong kolaborasi antara STAIN Majene dan Unsulbar. STAIN diharapkan fokus pada digitalisasi dan kajian nilai etika-agama dalam naskah Lontara, sementara Unsulbar berperan dalam pengembangan teknologi pengarsipan berbasis AI untuk membaca naskah kuno.
2. Kurikulum “Merawat Tomanurung”: Mengusulkan konsep Tomanurung sebagai mata kuliah penciri, khususnya dalam studi Kepemimpinan Lokal. Nilai-nilai Tomanurung dibedah bukan sebagai mitos, melainkan sebagai standar integritas bagi tata kelola pemerintahan modern.
3. KKN Tematik Budaya: Menugaskan mahasiswa untuk melakukan inventarisasi aset budaya dan cerita lisan di desa-desa. Data yang terkumpul akan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah atau direktori budaya digital Majene.
4. Pusat Studi Mandar Internasional: Menjadikan Majene sebagai destinasi utama peneliti dunia di bidang filologi dan antropologi melalui kolaborasi pemerintah daerah dan kampus, termasuk penyelenggaraan simposium tahunan “Lontara & Future Majene”.
5. .Rekonstruksi Narasi Tomanurung: Mengubah branding Tomanurung dari entitas gaib menjadi simbol “Inovasi dan Perubahan Besar”.
Semangat pencerahan yang dibawa Tomanurung di masa lalu harus menjadi spirit ilmu pengetahuan di lingkungan kampus.”Majene jangan hanya menjadi tempat mahasiswa belajar teori umum. Majene harus menjadi ‘Ruang Produksi Pengetahuan’ di mana Lontara Mandar adalah datanya, dan perguruan tinggi adalah mesin pengolahnya,” tegas DR Aco Musaddad HM di hadapan para peserta diskusi.
Melalui usulan ini, diharapkan identitas Majene sebagai pusat pendidikan di Sulawesi Barat memiliki karakter yang kuat, yang mampu memadukan kecanggihan teknologi dengan kedalaman kearifan lokal.
Hadir sebagai pembicara. Dharmawan, Andi Pirsan, DR. Farid Wajdi, Thamrin, Tammalele. Acara dipandu Munir. (*)







