POLMAN, SULBARTODAY – Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan, sejumlah komunitas pecinta alam di Kabupaten Polewali Mandar menggelar aksi penanaman ribuan pohon mangrove di wilayah pesisir Pulau Battoa, Desa Tonyaman, Kecamatan Binuang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dan mencegah pemanasan global, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan pesisir.
Tidak seperti biasanya yang berfokus di wilayah pegunungan, kali ini Sandeq Pecinta Alam Polman bersama berbagai komunitas lainnya, DLHK, Polairud, mahasiswa, pelajar, PMII, dan warga sekitar, bersatu dalam aksi nyata ini.
Mereka terjun langsung menanam mangrove di tepi pantai, dengan menggunakan metode tanam rumpun jarak, di mana setiap lubang ditanami lima hingga tujuh batang pohon. Metode ini dipilih karena dianggap lebih efektif dalam meningkatkan potensi pertumbuhan dibandingkan sistem tanam tunggal.

Ilham, penanggung jawab kegiatan, menekankan bahwa penanaman mangrove ini adalah langkah konkret dalam melestarikan ekosistem pesisir. “Kami berharap kegiatan ini memberikan dampak langsung terhadap kelestarian lingkungan di Pulau Battoa. Mangrove sangat penting bagi ekosistem laut dan juga berfungsi sebagai benteng alami dari abrasi,” ujarnya.
Muhammad Yunus, Pembina Pencinta Alam Sandeq Polman, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Sandeq Pencinta Alam Polman dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung program FOLU Net Sink 2030, yang merupakan agenda nasional untuk menurunkan emisi karbon melalui sektor kehutanan dan penggunaan lahan.

Panitia kegiatan menegaskan bahwa aksi ini tidak hanya seremonial, melainkan sebuah gerakan berkelanjutan. Mereka akan terus memantau perkembangan tanaman mangrove setiap bulan, memastikan lingkungan yang terjaga menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Dengan adanya penanaman mangrove ini, diharapkan abrasi pantai dapat dicegah, serta kelestarian lingkungan dan ekosistem laut di sekitar Pulau Battoa tetap terjaga. (Anto)





