POLMAN, SULBARTODAY.COM – Puluhan hektare lahan persawahan yang tergabung dalam P3A Al Munawarah di Desa Botto, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar, mengalami kekeringan akibat minimnya pasokan air irigasi.
Ketua P3A Al Munawarah, Mursalim, mengatakan luas areal persawahan di wilayahnya mencapai sekitar 50 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 1 hektare sawah mengalami kekeringan cukup parah dan membutuhkan penyiraman darurat, sementara lahan lainnya juga mulai terdampak akibat berkurangnya debit air.
Menurutnya, kondisi ini telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Para petani kesulitan mendapatkan air karena saluran irigasi yang digunakan hingga kini masih berupa saluran tanah, sehingga distribusi air tidak maksimal.
“Kami sudah lama mengalami kesulitan air. Saluran yang ada masih berupa saluran tanah, sehingga air tidak mengalir secara optimal ke lahan pertanian,” ujar Mursalim, Kamis (16/7/2026).
Untuk menyelamatkan tanaman padi yang mulai mengering, P3A Al Munawarah berkoordinasi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Campalagian untuk meminta bantuan penyiraman menggunakan mobil pemadam kebakaran.
Menindaklanjuti permintaan tersebut, dua unit mobil Damkar Kecamatan Campalagian dikerahkan ke lokasi untuk menyuplai air ke lahan persawahan yang mengalami kekeringan.
Mursalim mengapresiasi BPP Campalagian serta respons cepat petugas Damkar yang telah membantu para petani. Namun, ia menegaskan bahwa bantuan tersebut hanya bersifat sementara dan belum menjadi solusi jangka panjang.
Karena itu, pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar maupun Balai Wilayah Sungai Sulawesi III dapat memberikan perhatian dengan membangun atau memperbaiki jaringan irigasi di Daerah Irigasi Malaoso Kanan agar kebutuhan air petani dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
“Kami sangat berharap ada bantuan pembangunan irigasi permanen. Dengan jaringan irigasi yang baik, petani tidak lagi bergantung pada bantuan penyiraman menggunakan mobil Damkar saat musim kemarau,” tutup Mursalim.





