Majene, Sulbartoday — Di Dusun Porendeang, Desa Bababulo, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, suara ketukan palu dan gesekan kayu masih akrab terdengar dari bengkel-bengkel sederhana milik para pengrajin kapal tradisional. Di antara deretan bengkel itu, nama Ranjani (60) dikenal luas sebagai sosok yang menjadi cikal bakal geliat usaha ini. Keterampilan membuat kapal diwariskan turun-temurun dari keluarganya, dan Ranjani mulai menekuninya sejak usia 15 tahun, ketika ia belajar langsung dari orang-orang yang ditemuinya saat merantau pada tahun 1980-an. Sejak saat itu hingga sekarang, ia tak pernah berhenti melanjutkan usaha tersebut.
“Bapak belajar dari orang-orang ketika merantau di tahun 1980-an sampai sekarang,” ujar Ranjani mengenang awal mula ia mendalami keahlian ini.
Ranjani tercatat sebagai orang pertama yang menjadi pengrajin kapal di Desa Bababulo. Dari tangannya pula, keterampilan ini kemudian menular kepada warga sekitar, sebab ia tak segan membagikan ilmunya kepada siapa saja yang ingin belajar. Berkat itu, kini banyak masyarakat Dusun Porendeang yang turut menekuni profesi serupa, menjadikan Ranjani bukan sekadar pengrajin, melainkan juga guru bagi generasi pengrajin kapal yang tumbuh setelahnya.p
Proses pembuatan sebuah kapal dimulai dari pengumpulan bahan baku berupa kayu, salah satunya kayu uling, yang diolah hingga berbentuk papan sebelum memasuki tahap pengerjaan. Pengadaan kayu ini berlangsung fleksibel, bisa disiapkan langsung oleh Ranjani maupun oleh pihak pemesan, dengan campuran bahan seperti kayu jati serta penggunaan paku kayu sebagai salah satu komponen konstruksinya. Dikerjakan oleh empat orang tenaga kerja, satu unit kapal biasanya rampung dalam waktu sekitar satu bulan lebih, dan sepanjang tahun 2025 saja, Ranjani beserta timnya mampu menyelesaikan puluhan unit kapal dengan harga jual berkisar Rp30 juta hingga Rp60 juta per unit, tergantung ukuran dan spesifikasinya.
Jenis kapal yang paling sering dibuat adalah kapal nelayan bodi-bodi, atau yang akrab disebut warga setempat dengan nama kaloto’. Kapal jenis ini umumnya berukuran panjang sekitar 15 meter, lebar 180 sentimeter, dan tinggi 1,2 meter, dengan masa pakai produktif yang bisa mencapai sekitar 11 tahun sebelum memerlukan perbaikan atau bahkan penggantian baru. Bagi Ranjani, kualitas menjadi kunci yang membedakan kapal buatannya dari daerah lain. “Cara kerjanya halus, kualitas kapalnya juga baik,” katanya, menjelaskan ciri khas yang membuat reputasi kapal buatan Bababulo terus terjaga hingga kini. Reputasi itulah yang membuat pesanan tak hanya datang dari warga sekitar, tetapi juga dari luar daerah, termasuk wilayah Sulawesi Tengah.
Lebih dari sekadar sumber penghasilan bagi pengrajin dan para pekerjanya, kapal-kapal hasil karya Ranjani juga menjadi tumpuan aktivitas melaut warga sehari-hari, dengan kapasitas tangkap yang bisa mencapai sekitar 200 kilogram ikan dalam sekali melaut. Peran ganda inilah yang menjadikan usaha pembuatan kapal sebagai bagian tak terpisahkan dari roda ekonomi masyarakat pesisir Desa Bababulo, meski di balik geliat produksinya, tantangan tetap ada, terutama menyangkut biaya pengadaan bahan baku kayu sebelum proses pengerjaan dapat dimulai.
Soal keberlanjutan keterampilan ini di kalangan generasi muda, Ranjani menyebut minat sebenarnya masih tumbuh di antara anak-anak muda Desa Bababulo. Hanya saja, kebiasaan mereka yang begitu lulus sekolah langsung terjun menjadi nelayan turut memengaruhi pola regenerasi pengrajin kapal di desa ini. Meski demikian, Ranjani tak berhenti berharap agar usahanya semakin dikenal luas, sehingga semakin banyak pihak yang tertarik untuk memesan kapal buatannya. “Supaya lebih banyak yang mengetahui dan membeli atau memesan kapal ke Bapak Ranjani,” ujarnya menyampaikan harapannya.
Dengan sejarah panjang yang dirintis sejak masa mudanya, kualitas yang terus terjaga, serta peran vital dalam menopang ekonomi masyarakat pesisir, usaha pembuatan kapal tradisional di Desa Bababulo tumbuh menjadi lebih dari sekadar mata pencaharian. Ia berpotensi menjadi salah satu identitas maritim sekaligus daya tarik yang layak terus dikembangkan ke depannya.
Laporan : Dewi Sartika





